Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Bunda Literasi Kota Salatiga Tahun 2026 di Mini Theater Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga, Selasa (23/6/2026). Kegiatan yang mengusung tema โMenyalakan Literasi dari Rumah: Strategi Peningkatan IPLM dan TKM Kota Salatigaโ ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat budaya literasi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak dini.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bunda Literasi Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga, Jadi Amali, Bunda Literasi tingkat kecamatan dan kelurahan; perwakilan Dinas Pendidikan, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Salatiga, Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM), serta para pegiat dan komunitas literasi se-Kota Salatiga.
Dalam sambutannya, Retno Robby Hernawan menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan serta seluruh pegiat literasi yang terus berperan aktif membangun budaya baca di tengah masyarakat. Menurutnya, penguatan literasi harus dimulai dari lingkungan keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter dan pengetahuan anak.
โRumah adalah sekolah pertama, orang tua adalah guru pertama, dan keluarga adalah ruang pertama tempat anak belajar mengenal dunia. Karena itu, peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) maupun Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) tidak dapat dibebankan hanya kepada perpustakaan atau sekolah, tetapi harus menjadi gerakan bersama,โ ujarnya.
Rakor tersebut turut menghadirkan Reny Irawati sebagai narasumber utama. Dalam paparannya yang berjudul โMenghidupkan Literasi, Menguatkan Komunitas, Membangun Salatiga yang Berdayaโ, Reny mengulas berbagai strategi penguatan literasi berbasis komunitas yang disesuaikan dengan karakteristik demografi masyarakat Salatiga, mulai dari anak usia dini, usia produktif, hingga lanjut usia.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga, Jadi Amali, memaparkan kondisi literasi di Kota Salatiga. Ia menyampaikan bahwa capaian IPLM mengalami penurunan, sedangkan TKM masih berada pada kategori yang perlu mendapat perhatian serius.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat akses terhadap bahan bacaan dan membangun kebiasaan membaca di masyarakat. Pemerintah Kota Salatiga saat ini juga tengah menyiapkan regulasi dan berbagai langkah strategis untuk memperkuat gerakan literasi, termasuk optimalisasi peran Bunda Literasi.
โKami terus mendorong berbagai upaya nyata, mulai dari penguatan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), penyediaan pojok baca, hingga pelibatan dunia usaha melalui penyediaan creative corner atau ruang baca di area publik. Jika setiap keluarga mampu menyalakan semangat literasi dari rumah, maka akan lahir SDM Salatiga yang analitis, inovatif, dan adaptif,โ jelasnya.
Retno juga menyoroti tantangan era digital, ketika penggunaan gawai masih lebih banyak dimanfaatkan untuk hiburan dibandingkan sebagai sarana belajar. Selain itu, ketersediaan ruang baca di rumah juga belum merata. Untuk itu, ia mengajak seluruh Bunda Literasi berperan sebagai inspirator, motivator, fasilitator, dan kolaborator melalui lima langkah sederhana, yakni menyediakan pojok baca di rumah, membiasakan membaca bersama keluarga, mendongeng sebelum tidur, mengajak anak berkunjung ke perpustakaan, serta meluangkan waktu membaca minimal 15 menit setiap hari.
Mengakhiri sambutannya, Retno menyampaikan pesan inspiratif tentang pentingnya membangun budaya literasi dalam keluarga.
โRumah yang dipenuhi buku akan melahirkan anak-anak yang kaya pengetahuan. Rumah yang dipenuhi cerita akan melahirkan anak-anak yang kaya imajinasi. Dan rumah yang mencintai literasi akan melahirkan generasi yang mampu mengubah masa depan,โ tuturnya.












