Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpersip) Kota Salatiga kembali menyelenggarakan Kelas Literasi Membatik bagi warga binaan di Rutan Kelas IIB Salatiga. Kegiatan ini berlangsung selama lima kali pertemuan (20,21,22,23 dan 27 April 2026) dan diikuti oleh 25 warga binaan sebagai bagian dari program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta bersama-sama membuat Batik Salastri dengan bimbingan langsung dari pembatik Kak Nawang serta pendampingan dari petugas Dinpersip Kota Salatiga. Proses membatik dilakukan mulai dari pengenalan motif, pencantingan, hingga pewarnaan kain dengan penuh antusias dan semangat belajar dari para peserta.
Batik Salastri sendiri merupakan batik khas kebanggaan Kota Salatiga yang lahir dari Kelas Literasi Dinpersip dan telah terdaftar hak cipta pada April 2024. Batik ini menjadi simbol kreativitas, literasi, dan budaya masyarakat Salatiga sekaligus identitas daerah yang terus dikembangkan dan dilestarikan.
Selain memberikan keterampilan baru bagi warga binaan, hasil karya dari kelas literasi membatik ini turut menambah khazanah koleksi Batik Salastri yang nantinya dipamerkan dalam berbagai event tertentu.
Dilansir dari akun resmi Rutan Salatiga, Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Salatiga, Rondi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam menciptakan warga binaan yang mandiri dan produktif.
“Pelatihan membatik ini bukan hanya sekadar kegiatan mengisi waktu, tetapi menjadi bekal keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. Harapannya, setelah bebas nanti, warga binaan dapat memanfaatkan kemampuan ini untuk membuka peluang usaha,” ungkapnya.
Salah satu warga binaan, Ilham, juga mengungkapkan antusiasmenya selama mengikuti pelatihan tersebut.
“Saya sangat senang bisa ikut pelatihan ini. Selain menambah keterampilan, kegiatan ini juga membuat kami lebih semangat menjalani masa pembinaan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Dinpersip Kota Salatiga berharap perpustakaan tidak hanya menjadi pusat literasi baca tulis, tetapi juga mampu menghadirkan ruang pembelajaran keterampilan yang inklusif, produktif, dan berdampak langsung bagi masyarakat, termasuk bagi warga binaan.











